Pelambatan Ekonomi Berdampak Negatif pada Mobil Fin Komodo
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Senin, 31 Agustus 2015 21:07 WIB
Mobil Fin Komodo. TEMPO/Dinul Mubarok

TEMPO.CO, Jakarta - Pelambatan ekonomi yang terjadi tahun ini berdampak negatif pula terhadap kinerja pabrikan otomotif asli Indonesia, Fin Komodo, yang penjualannya sepanjang semester pertama menurun sekitar 40% hingga 50%.

Presiden Direktur PT Fin Komodo Teknologi Ibnu Susilo mengatakan, tahun lalu pihaknya bisa menjual hingga sekitar 80 unit Fin Komodo pada paruh pertama. Sedangkan penjualannya sepanjang tahun 2014 mencapai 120 unit.

Ibnu mengklaim, jumlah penjualan pada 2014 tersebut sesuai dengan kapasitas pabrik Fin Komodo dalam satu tahun. Meski demikian, pada 2015 Ibnu masih optimistis pihaknya bisa mencatatkan jumlah penjualan menyamai tahun lalu.

“Kami berharap raihannya sama seperti tahun lalu,” katanya, Minggu (30 Agustus 2015).  

Menurutnya, untuk mempertahankan angka penjualan tersebut pihaknya saat ini lebih agresif mendekati konsumen. Hal itu dilakukan melalui media sosial dan pameran seperti Indonesia International Motor Show (IIMS) 2015 yang diselenggarakan selam 11 hari dan berakhir kemarin.

Selain sebagai jalan mendekati konsumen, IIMS pun menjadi ajang bagi pihaknya memperkuat brand image di tengah pasar yang lesu. Dia menilai, pameran mobil tersebut semakin memudahkan pihaknya melakukan sosialisasi terkait produk otomotif asli karya anak bangsa itu.

“IIMS ini pas momennya untuk memberi kesempatan sosialisasi. Memang banyak yang bertanya ini mobil apa dan dari mana, saat kami jelaskan kalau ini mobil Indonesia  dari Cimahi mereka sadar kita bisa memproduksi mobil dan itulah yang kami sasar yaitu edukasi masyarakat,” ujarnya.

Menurut dia, ajang semacam IIMS pun diharapkan dapat menggenjot penjualan ke depan. Di sisi lain, di IIMS 2015 Fin Komodo terjual sebanyak dua unit. Pembelian dilakukan oleh perusahaan dengan kebutuhan alat transportasi ‘non infrastruktur’ yang beroperasi di daerah pegunungan.

Ibnu mengklaim, di IIMS pun banyak calon konsumen potensial yang akan ditindaklanjuti setelah pameran dihelat. Konsumen potensial tersebut berasal dari perusahaan pertambangan dan perkebunan yang membutuhkan kendaraan tangguh di medan berat.

Saat ini, produk Fin Komodo yang paling diminati adalah varian standar dengan harga pabrikan sekitar Rp88 juta. Kontribusinya mencapai 80% dari total penjualan. Selain itu, varian medical evacuation dan model untuk membuka lahan perkebunan menjadi contributor terbesar berikutnya.

Sedangkan untuk varian termahal adalah Fin Komodo yang disesuaikan sebagai alat mobil pemadam kebakaran lengkap dengan peralatannya yang dibanderol Rp300 juta. Dia menuturkan, saat ini pembeli terbesar Fin Komodo adalah perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri.

Bahkan menurutnya pembelian bisa di atas 20 unit sekali transaksi. Namun karena pelambatan ekonomi, hasil survey perusahaanya menyebutkan  saat ini konsumen cenderung menahan pembelian, terlebih sektor pertambangan dan perkebunan terkena dampak langsung hal tersebut.

Untuk mempertahankan loyalitas pelanggan, pihaknya menjamin after sales bagi pelanggannya. Dia menjamin ketersedian suku cadang bagi konsumen hingga pelosok Nusantara. Bahkan, pihaknya siap mengirimkan suku cadang yang dipesan.

Selain itu, pihaknya pun menyiapkan mekanik perusahaan pelanggan untuk perawatan armada yang sudah dibeli. Selain itu, pihaknya siap memberikan pelatihan bagi mekanik yang bekerja di perusahaan pembeli produk Fin Komodo, atau pun mengirim mekanik langsung dari Cimahi jika diperlukan.

Dia menambahkan, saat ini Fin Komodo ditopang oleh sekitar 80% komponen lokal dengan 40 perusahaan pemasok. Selain itu, Fin Komodo pun disokong sekitar tujuh diler di Cimahi, Medan, Jambi, Palembang, Lamongan, Sidoarjo, dan Bali.

“Tahun ini dalam waktu dekat akan buka lagi di Makassar, Balikpapan, dan Banjarmasin,” ujarnya.BISNIS.COM

#Info Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi