Berteknologi Hidrogen, Mobil Ini Tak Pakai Knalpot
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Jumat, 11 Desember 2015 15:37 WIB
Toyota Motor Corp memperlihatkan secara luas mobil konsep terbarunya yang berbahan bakar hidrogen sepenuhnya, Toyota FCV PLUS saat berlangsungnya pagelaran Tokyo Motor Show di Tokyo, Jepang, 28 Oktober 2015. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Konsep kendaraan ramah lingkungan kini sedang marak diusung sejumlah produsen. Salah satunya kendaraan bersistem hibrida yang menggunakan bahan bakar hidrogen atau disebut juga fuel cell vehicle (FCV).

Pionir kendaraan dengan konsep tersebut adalah Toyota. Dengan mengusung label Mirai – yang dalam Bahasa Indonesia berarti masa depan, mobil ini berhasil mencuri perhatian pencinta otomotif di dunia.

Meskipun sudah pernah ditampilkan dalam ajang Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) pada Agustus lalu sebagai mobil konsep, kiprahnya di pasar komersial sudah resmi sejak akhir 2014. Ketika itu, mobil ini dibanderol dengan harga 6,7 juta yen atau sekitar Rp 800 juta per unit.

Keunggulan dari teknologi yang diusung fuel cell yakni mampu mencampur hidrogen dengan oksigen guna menghasilkan reaksi kimia berupa listrik yang disimpan dalam baterai untuk menggerakkan dua motor sebagai penggerak. Ini menjadi pembeda antara FCV dan mesin konvensional yang menghasilkan tenaga penggerak dengan membakar bahan bakar.

Pada FCV, karena tidak ada pembakaran, maka tidak ada CO2 maupun SOC (substance of concern) yang dihasilkan. Mobil ini tidak perlu knalpot. Emisi Mirai hanya air.

Sedan empat pintu  dilengkapi penguat dari boost converter yang mampu mengirim listrik untuk menghasilkan output maksimum 113 kW/ torsi 335 N-m sebagai tenaga utama maupun untuk disimpan di dalam baterai hybrid. Motor listrik digerakkan langsung oleh FC Stack saat akselerasi.

Sedangkan pada kondisi stabil, motor listrik digerakkan oleh baterai. Pengendara dapat mengetahui sumber penggerak motor listrik tersebut melalui indikator di dashboard mobil. Mirai yang berbobot 1.850 kg ini telah mengadopsi regenerative braking, yaitu energi dari pengereman diubah menjadi listrik untuk memasok baterai.

Waktu yang diperlukan untuk mengisi penuh hidrogen mencapai tiga menit. Dengan hidrogen yang terisi penuh, Mirai bisa berjalan 650 kilometer per jam. Saat ini, Toyota hanya mampu memproduksi rata-rata tiga unit Mirai per hari. Rencananya, Toyota akan memproduksi 2.000 unit pada tahun depan dan 3.000 unit pada 2017.

Deputy Chief Engineer Toyota Motor Corporation Yoshikazu Tanaka mengatakan mobil ini dapat digunakan pada negara berkembang jika stasiun pengisian hidrogen sudah ada di negara tersebut. Semakin banyak yang memakai fuel cell, biaya produksi akan semakin murah, bahkan dapat menghemat hingga 40 persen.

Produsen otomotif asal Korea Selatan, KIA,  tak mau ketinggalan. Sebagaimana dilansir dari kianewscenter.com, KIA akan memperkenalkan kendaraan berteknologi fuel cell pada 2020. Pabrikan asal Negeri Ginseng itu menganggap dalam lima tahun ke depan akan banyak pabrikan yang memproduksi kendaraan dengan teknologi tersebut.

Kia juga telah menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan perusahaan Clean Energy Partnership dari Jerman sejak 2011 untuk membuat kendaraan-kendaraan ramah lingkungan, termasuk mobil yang berteknologi fuel cell. Kerja sama itu juga menghasilkan kesepakatan tentang pemasaran mobil tersebut di pasar Eropa.

Mengacu laman Worldcarfans, mobil berbahan bakar hidrogen dari KIA akan dibekali dengan mesin berkapasitas 2.0-liter. Mobil itu juga diklaim akan 5 persen irit dan 10 persen  kuat dibandingkan kendaraan bermesin konvensional.

Mobil itu ditargetkan dapat menempuh jarak 800 kilometer  dan mampu berlari dengan kecepatan maksimal 170 kilometer per jam. Tak hanya itu, KIA juga mengklaim bahwa kendaraan berbahan bakar hidrogennya akan dibuat dengan berbagai inovasi modern yang berkualitas tinggi.

Guna mewujudkan mobil tersebut, KIA  bekerja sama dengan 300 pemasok bahan produksi. Target produksi mobil ini sudah dibocorkan, yakni sekitar 1.000 unit per tahun dan akan dijual di seluruh dunia. Dari jajaran produsen mobil mewah, Mercedes-Benz yang asal Jerman juga berencana mengembangan model beremisi air.

Rencananya, varian fuel cell komersial pertama Mercy adalah keluarga sport utility vehicle (SUV) baru, GLC. Kombinasi fuel cell dan baterai dari Mercedes-Benz ini ditargetkan mampu menempuh jarak 600 kilometer, dengan proses isi ulang tangki hidrogen selama tiga menit.

Konsep purwarupa mobil hidrogen dari Mercy ini akan ditampilkan pada Frankfurt Motor Show 2017, disusul dengan proses produksi dan penjualan pada tahun berikutnya. Meski bukan yang pertama di dunia, mobil berteknologi hidrogen itu diklaim akan menjadi yang pertama dari Jerman.

Di dalam negeri, pemerintah sebetulnya telah melihat besarnya potensi dan peluang kendaraan fuel cell di masa depan. Sebagaimana dilansir laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menginisiasi pembentukan Indonesia Association Fuel Cell and Hydrogren Energy (INAFHE).

Asosiasi yang resmi dibentuk pada akhir tahun lalu ini memiliki misi sebagai wadah bagi seluruh pihak yang bergerak di bidang pengembangan fuel cell di Indonesia. Salah satu tujuannya yaitu memajukan dan mengembangkan ilmu dan teknologi pada energi fuel cell dan hidrogen untuk kepentingan masyarakat banyak.

BISNIS

#Industri Otomotif
#Gaikindo

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi