Pasar Mobil Asean Naik, di Indonesia Tak Sesuai Harapan
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Kamis, 17 Desember 2015 03:14 WIB
Julia Perez bersama mobil mewahnya, Porsche Boxter, di Jakarta (4/5). Mobil mewah ini dibeli dari hasil penjualan lagunya yang berjudul "Aku Rapopo". web.stagram.com/juliaperrez

TEMPO.CO, Jakarta - Penjualan mobil di negara-negara yang tergabung dalam Asean Automotive Federation pada Oktober 2015 mencapai 270.115 unit, jumlah itu naik dari bulan sebelumnya yang hanya 260.979 unit.

Dengan capaian tersebut, sepanjang semester kedua tahun ini total penjualan mobil dari negara-negara yang tergabung dalam Asean Automotive Federation (AFF) menunjukan grafik yang stabil menanjak. Pada Juli jumlahnya menapak 222.927 unit dan Agustus sebanyak 253.278 unit.

Padahal, jika melihat pasar mobil di kawasan Asean di bulan-bulan pada paruh pertama tahun ini penjualan selalu naik turun. Pada Januari jumlahnya 245.428 unit, bulan berikutnya 238.367 unit. Pada Maret naik kembali menjadi 286.772 unit.

Sedangkan April penjualannya menurun kembali menjadi 225.394 unit. Pada Mei angkanya kembali merangkak naik menjadi 235.021 unit dan Juni 251.029 unit. Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto mengatakan, meski penjualan di  semester kedua merangkak, total penjualan sepanjang tahun ini masih tak sesuai harapan.

Sebabnya, secara total penjualan pada periode Januari-Oktober 2015 hanya 2,489 juta unit merosot sekitar 6,2% dari kurun waktu yang sama tahun lalu sebanyak 2,652 juta unit.

Penurunan pasar mobil di Asia Tenggara secara total tak lepas dari melambatnya kondisi ekonomi global. Apa lagi, yang paling terdampak hal tersebut adalah negara dengan pasar mobil terbesar seperti Indonesia, Thailand dan Malaysia.

Di sisi lain, lanjut dia, meski kondisi ekonomi di beberapa negara Asean belum sesuai harapan namun situasinya secara umum memasuki semester kedua menimbulkan sentimen positif.

“Total pasar masih turun karena ekonomi dunia ini berpengaruh. Tapi mungkin memang semester kedua sentimennya lebih positif,” katanya, Selasa (15 Desember 2015).

General Manager Marketing Strategy and Product Planning PT Nissan Motor Indonesia (NMI) Budi Nur Mukmin yang pernah menjadi Country Manager Nissan Malaysia dan Vietnam mengamini Jongkie. Di paruh kedua tahun ini ada sentimen positif di pasar setelah sebelumnya terpukul kondisi ekonomi global.

Di sisi lain dia menyebut penjualan di kawasan Asia Tenggara harus dilihat per negara. Pasalnya, tidak semua negara mengalami pertumbuhan dan sebaliknya.

“Kebetulan yang turun paling parah Indonesia dan Thailand sebagai pasar terbesar sehingga total pasar pun menjadi minus,” katanya kepada Bisnis dalam kesempatan berbeda.

Pada periode Januari-Oktober 2015 dibandingkan dengan tempo waktu yang sama di tahun lalu negara dengan pertumbuhan pasar mobil adalah Vietnam mencapai 59%, Singapura 61,2%, dan Filipina 22,4%. Adapun Brunei anjlok 20,2%, Indonesia merosot 17,8%, Malaysia turun 1%, dan Thailand melandai 13, ,6%.

Jika dilihat dari segi produksi, pada periode Januari-Oktober 2015 jumlahnya mencapai 3,279 juta unit. Jumlah itu menurun tipis yakni sekitar 2,2% dari hasil produksi pada kurun waktu yang sama pada 2014 yang mencapai 3,351 juta unit.

Jongkie menambahkan, produksi memang erat kaitannya dengan penjualan tapi tidak akan sama jika dilihat dari segi pertumbuhan atau penurunan. Dia berasumsi penurunan produksi pasti bisa lebih ditekan.

“Karena disesuaikan dengan serapan pasar,” imbuhnya.

Sementara itu Budi menyebut produksi mobil di Tanah Air sangat berpengaruh terhadap penurunan angka produksi di kawasan Asia Tenggara. Sebabnya, Indonesia sebagai produsen terbesar kedua setelah Thailand. Di sisi lain, hanya Indonesia saja yang merosot.

“Karena Thailand untuk ekspor dan kebutuhan dalam negeri hampir sebanding. Sehingga produksi mereka lebih terjaga,” cetusnya.

Periode Januari-Oktober 2015 dibandingkan kurun waktu yang sama tahun lalu produksi di Vietnam melesat  42,7%, Thailand naik 1,8%, Filipina bertumbuh 8,6%, Malaysia merangkak positif meski tipis sebesar 2,5%. Sementara Indonesia merosot 15,4%.

BISNIS

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi