Produsen Mobil Dukung Inggris Tak Keluar dari Uni Eropa
Reporter: Tempo.co
Editor: Setiawan Adiwijaya
Kamis, 25 Februari 2016 12:18 WIB
Perdana Menteri Inggris David Cameron, berbicara pada media saat konferensi pers di Istana, Singapura, 29 Juli 2015. Cameron melakukan lawatan kesejumlah negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia dan Vietnam. Ap/Joseph Nair

TEMPO.CO, London - Sejumlah produsen mobil berharap agar Inggris tak keluar dari Uni Eropa. Nissan dan Daimler bergabung dengan Ford untuk mendukung Perdana Menteri Inggris David Cameron yang mengupayakan agar Inggris tetap dalam Uni Eropa.

"Preferensi kami sebagai sebuah entitas bisnis, tentu saja berharap Inggris tetap gabung di Uni Eropa," ucap Ghosn seperti dilansir dari laman europe.autonews.com yang mengutip Bloomberg, Kamis 25 Februari 2016.

Ghosn berkata, Nissan tetap berkomitmen untuk berinvestasi di Inggris. "Kami berharap bisa memperluas kapasitas pabrik, kami ingin punya pusat rekayasa teknologi, tentu dengan harapan bisa kompetitif dengan pesaing. Tentu akan kami tangkap setiap peluang yang ada," Ghosn berujar.

Produsen mobil Jepang ini mempunyai pabrik perakitan terbesar di Inggris dan pusat Nissan di Eropa yakni Nissan Sunderland Plant. Pabrik ini antara lain memproduksi mobil mewah andalan Nissan, Infiniti.

Nissan Sunderland Plant  mampu memproduksi sekitar 500 ribu unit per tahun dan sekitar 80 persen diekspor. Saat ini jumlah karyawan di pabrik itu mencapai 8 ribu.

Dalam wawancara dengan televisi Bloomberg, Selasa 23 Februari 2016,  Mark Fields, CEO Ford Motor mengatakan,  para produsen mobil di Amerika menyatakan bahwa sangat penting Inggris menjadi bagian dari pasar tunggal dan bagian dari Uni Eropa."Ini demi kepentingan terbaik buat Inggris," ucap Fields.

Bodo Uebber, CFO Daimler juga mendukung agar  Inggris tetap bergabung dengan Uni Eropa. "Semakin banyak negara yang tergabung, Uni Eropa akan semakin besar dan semakin baik," ucapnya kepada wartawan di New York.  

Perusahaan otomotif global memang sangat berkepentingan agar Inggris tetap bergabung dengan Uni Eropa karena merupakan pasar yang prospektif. Inggris menjadi akses utama untuk pasar tunggal Eropa karena itu mereka berkepentingan dengan keberadaan pabriknya di sana.

Mike Hawes, CEO British Society of Motor Manufacturing and Traders bulan lalu pernah menyatakan bahwa referendum penentuan Inggris pada keanggotaan Uni Eropa bakal berpengaruh terhadap pertumbuhan pasar otomotif ke depan.  "Eropa adalah mitra dagang terbesar kami dan keanggotaan Inggris di Uni Eropa sangat penting untuk pertumbuhan sektor otomotif," ucapnya.

Tahun lalu, ekspor Inggris ke pasar Uni Eropa sekitar 58 persen disumbang dari sektor otomotif. Ekspor mobil Inggris ke Uni Eropa tahun lalu meningkat 11 persen.

SETIAWAN ADIWIJAYA

#Industri Otomotif
#Ford
#Inggris Raya

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi