Toyota dan Daihatsu Dirikan Perusahaan Baru  
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Rabu, 5 Oktober 2016 10:15 WIB
Seorang staff menunjukan robot Mini Kirobo keluaran Toyota Motor Corp saat konferensi pers di Tokyo, Jepang, 27 September 2016. Kirobo dapat merespons pembicaraan orang di sekelilingnya. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

TEMPO.COJakarta - Toyota Motor Corp (TMC) akan mendirikan perusahaan patungan baru bersama Daihatsu Motor Co (DMC) untuk mengembangkan dan memasarkan mobil kompak.

Rencananya, produk ini dipasarkan di negara berkembang sebagai upaya memperluas penguasaan pasar di Asia. Perusahaan baru itu rencananya dibentuk pada Januari tahun depan, di mana Daihatsu akan menjadi pemimpin proyek dan berperan sebagai penanggung jawab pengembangan, pengadaan, dan produksi.

Mobil kompak atau compact car merupakan mobil berukuran kecil dengan kapasitas penumpang maksimal 5 orang dan memiliki mesin berukuran 1.000-1.500cc.

Selain memperluas pasar, proyek ini ditujukan untuk lebih mengenalkan Daihatsu di pasar global, mengingat selama ini merek tersebut lebih dikenal sebagai produsen mobil kecil dan sebatas di negara berkembang.

Daihatsu yang telah diakuisisi Toyota memang dikenal sebagai perusahaan yang fokus pada kendaraan kompak. Merek tersebut memiliki penguasaan pangsa pasar cukup besar untuk beberapa negara di kawasan regional. Di Malaysia, perusahaan tersebut menguasai pangsa pasar mobil penumpang sebesar 32,5 persen.

Adapun di Indonesia, Daihatsu menguasai pasar 16 persen pasar mobil penumpang. “Dengan pembentukan perusahaan patungan secara internal, Toyota ingin banyak belajar dengan Daihatsu terkait fundamental bisnis dan cara kerja menghadapi persaingan,” kata Executive Vice President Toyota Shigeki Terashi, Selasa, 4 Oktober 2016.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) hingga bulan lalu, total penjualan Daihatsu mencapai 116.999 unit, naik tipis dibandingkan dengan capaian pada periode Januari-Agustus tahun lalu sebanyak 113.431 unit.

Meski demikian, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia belum bersedia memberikan penjelasan secara rinci. Perusahaan itu juga masih bungkam terkait kemungkinan kebijakan serupa akan diterapkan di Indonesia. “Saat ini belum ada kebijakan untuk Indonesia,” kata Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahjono. 

Dia menambahkan, Toyota Motor Corp dan Daihatsu Motor Co masih fokus membahas rencana pendirian perusahaan patungan tersebut. Di Indonesia, pendirian usaha patungan bukan hal baru bagi kedua perusahaan itu. Melalui usaha patungan dengan PT Astra International Tbk, duet Daihatsu dan Toyota telah menghasilkan sejumlah produk untuk pasar domestik.

Beberapa produk itu antara lain kendaraan segmen low multi-purpose vehicle (LMPV) Xenia-Avanza, Terios-Rush yang masuk di segmen sport utility vehicle (SUV), serta Ayla-Agya dan Sigra-Calya di segmen low cost green car (LCGC). Produk tersebut diproduksi di pabrik yang dikelola Daihatsu.

Namun, terkait rencana pendirian unit usaha baru dengan Toyota, Daihatsu Indonesia masih belum bersedia memberikan keterangan. “Saya tidak mempunyai informasi mengenai hal ini,” kata Rudy Ardiman, Division Head Corporate Planning PT Astra Daihatsu Motor.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menilai, tren aliansi yang dibangun sejumlah perusahaan otomotif merupakan tuntutan yang harus dilakukan untuk memperluas penguasaan pasar. Tak hanya di sektor otomotif, langkah serupa juga umum dilakukan perusahaan di sektor lain. 

Menurut dia, aliansi atau pendirian usaha patungan baru akan efektif mengerek laju penjualan jika produk yang dihasilkan sesuai dengan minat pasar. “Ini upaya bisnis saja dan memang sudah menjadi tren sejak lama. Tujuannya untuk memperbesar cakupan bisnis, tapi hasil akhir bergantung pada penerimaan pasar,” ujarnya.

Koalisi dan kerja sama yang dilakukan perusahaan otomotif dunia saat ini memang tengah menjadi tren. Dalam Paris Motor Show, tiga produsen mobil raksasa, yakni BMW, Daimler, dan VW, mengaku akan meluncurkan teknologi layanan pemantauan lalu lintas terpadu pada tahun depan. Ketiga perusahaan ini bekerja sama dengan perusahaan jasa pemetaan navigasi SINI.

“Hal ini adalah respons industri otomotif untuk melawan ancaman bahwa Apple, dan khususnya Google, yang telah berambisi mengembangkan teknologi kemudi otomatis dan kendaraan model baru,” kata analis investasi teknologi Richard Windsor.

BISNIS

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi