Efek Brexit, Beginilah Sikap Toyota dan Nissan
Reporter: Tempo.co
Editor: Setiawan Adiwijaya
Sabtu, 21 Januari 2017 06:30 WIB
Carlos Ghosn. Dok. Nissan Motor Co.

TEMPO.CO, Jakarta - Dua produsen mobil Jepang, Toyota dan Nissan menyatakan komitmennya tetap akan memproduksi mobil di Inggris meskipun Perdana Menteri Inggris, Theresa May menegaskan negara ini keluar dari Uni Eropa atau British Exit (Brexit).

Carlos Ghosn, CEO Nissan menegaskan bahwa perusahaan tetap akan  memproduksi mobil Qashqai dan varian SUV, X-Trail di pabrik perakitan mereka di Sunderland.  

Baca: Mobil Fuel Cell Dinilai Lambat Populer

Toyota juga menegskan tetap akan melanjutkan produksi mobil dan perakitan mesindi pabrik mereka di Burnaston, Derbyshire dan Deeside di Norht Wales

Saat diwawancara Bloomberg TV di sela-sela acara World Economic Forum di Davos, Swiss beberapa waktu lalu, Bos Toyota Takeshi Uchiyamada menyatakan bahwa Inggris merupakan pasar otomotif yang menjanjikan buat mereka.

"Kami tidak akan menutup atau  merelokasi pabrik. Kami senang bisa membuka pabrik di sini (Inggris)," ucap Takeshi seperti dikutip dari laman autocar.co.uk.

Nissan, Toyota dan Honda selama ini tertarik berinvestasi di Inggris. Sebagai anggota Uni Eropa, Inggris bisa menjadi pembuka jalan bagi perusahaan-perusahaan otomotif Jepang itu untuk menjajal pasar ekspor otomotif negara-negara anggota Uni Eropa. Bagi mereka, Uni Eropa merupakan pasar yang menguntungkan karena kebijakan non tarifnya.

Baca: Simak Hasil Investigasi Kasus Mobil Otonom Tesla

Asosiasi Industri dan Pedagang Otomotif Inggris (The Society of Motor Manufacturers and Traders - SMMT) sebelumnya pernah mengingatkan mengingatkan agar pemerintah Inggris tak hengkang dari Uni Eropa. Menurut SMMT, kebijakan Brexit membuat industri otomotif Inggris merugi  £ 4,5 miliar atau sekitar Rp 74,13 triliun per tahun.

Beberapa perusahaan otomotif yang dihubungi Autocar sepandapat dengan SMMT agar Inggris tidak keluar dari Uni Eropa. Mereka menyatakan masih akan terus memantau situasi.

Keputusan Inggris untuk hengkak dari Uni Eropa membuat nilai tukar poundsterling terus melemah. Namun bagi perusahaan otomotif lokal seperti Aston Martindan Jaguar Land Rover, depresiasi pound justru menguntungkan mereka. Depresiasi pound meningkatkan penjualan mereka di luar negeri meningkat karena harga yang lebih kompetitif.  

Simak: VW Gandeng Rekanan Perkuat Pasar di Cina

"Kami mendukung jaminan yang diajukan Perdana Mengeri untuk memastikan perusahaan-perusahaan Inggris memiliki akses yang adil untuk semua pasar global," ucap CEO Aston Martin, Andy Palmer.

AUTOCAR.CO.UK|SETIAWAN ADIWIJAYA

#Industri Otomotif
#Nissan

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi