Mobil Murah Diklaim Bikin Industri Otomotif Bergairah
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Kamis, 16 Februari 2017 14:52 WIB
Mobil keluarga yang disebut sebagai mobil "Sejuta Umat' karena dapat dilihat warga Indonesia terutama Jakarta, banyak yang memiliki mobil ini dikarenakan harganya yang murah, juga memiliki konsumsi bahan bakar yang irit. Dalam 1 liter bahan bakar, mobil ini mampu berjalan sejauh 13 kilometer. fastmotoring.com

TEMPO.CO, Jakarta -Booming mobil murah alias low cost green car diklaim berhasil menggairahkan industri otomotif roda empat di Indonesia saat pelambatan ekonomi global melanda. Minat masyarakat terhadap mobil jenis LCGC ini pun sontak tumbuh seantero negeri. Alasannya sangat sederhana, harga rendah yang ditawarkan oleh para agen pemegang merek (APM) ikut memacu rasa penasaran untuk memiliki.

Banjirnya konsumsi masyarakat terhadap mobil LCGC juga sejalan dengan terkatrolnya harga mobil murah tersebut. Inflasi dan peningkatan biaya produksi menjadi alasan yang dipakai oleh produsen untuk melempar produknya dengan harga yang lebih tinggi.

Henry Tanoto, Vice President Director PT Toyota Astra Motor, mengatakan harga materiel komponen mobil dan ongkos produksi memang menjadi faktor utama peningkatan harga mobil LCGC. Peningkatan itu pun disebabkan oleh inflasi yang terjadi di dalam negeri, sehingga tidak dapat dihindari.

Meski demikian, Henry menyebut penaikan harga mobil LCGC yang dikeluarkan Toyota masih dalam level wajar, karena sesuai dengan panduan yang diberikan oleh pemerintah.

“Naiknya harga masih cukup wajar, seperti Agya yang harganya naik sekitar 1,7 persen karena biaya produksi dan inflasi,” katanya Rabu, 15 Februari 2017.

Baca: New Nissan March Diluncurkan, Ada 60 Perbedaan

Pembentukan harga mobil LCGC yang dikeluarkan Toyota sendiri dilakukan oleh masing-masing diler penyalur produk. Toyota Astra Motor (TAM) hanya mengeluarkan harga yang disarankan, sebagai rujukan masyarakat saat melakukan transaksi.

Menurutnya, diler resmi Toyota memiliki komitmen tinggi dalam menjaga harga jual mobil LCGC agar tetap sesuai dengan panduan yang diberikan pemerintah. Selain itu, masyarakat memiliki keleluasaan untuk memilih diler yang memiliki penawaran terbaik, sehingga tercipta kompetisi.

Hal yang sama disampaikan Donny Saputra, Direktur Marketing 4W PT Suzuki Indomobil Sales, yang menyebut penaikan ongkos produksi sebagai faktor utama meningkatnya harga jual Karimun Wagon R sebagai produk LCGC yang dikeluarkan Suzuki.

Baca: Peugeot Beli Merek Bersejarah India, Ambassador

Donny juga memastikan perusahaan selalu mengajukan penaikan harga mobil LCGC kepada pemerintah untuk mendapatkan persetujuan.

“Naiknya harga itu ada aturannya, dengan mengajukan kepada pemerintah melalui Kementerian Perindustrian. Jika disetujui, baru harganya dapat dinaikkan. Itu kami lakukan,” katanya.

APM yang menjual mobil LCGC memang diperkenankan mengajukan peninjauan harga setelah setahun, untuk disesuaikan dengan inflasi. Donny menyebutkan penaikan harga Wagon R sebagai produk LCGC yang dikeluarkan Suzuki tergolong rendah. Hal itu disebabkan perusahaan menggunakan pertimbangan lain dalam menentukan harga jual produknya.

Meski terus mengalami penaikan harga, Donny optimistis respons masyarakat terhadap produk LCGC yang dikeluarkan Suzuki akan terus positif. Hal itu disebabkan produk yang ditawarkan perusahaan sedikit berbeda dengan mobil LCGC lainnya.

“Saat ini masyarakat membeli mobil bukan lagi karena harganya, melainkan kebutuhan sebagai alat untuk membantu mobilitasnya. Kami tetap yakin penjualan Wagon R akan tetap positif,” ujarnya.

Kehadiran LCGC dengan tujuh penumpang, diakui Donny membuat pangsa pasar Wagon R tergerus. “Penurunan market share karena LCGC tujuh penumpang ini bukan hanya untuk kelas hatchback dan LCGC, melainkan pangsa pasar MPV dan low MPV juga ikut tereduksi,” ucapnya.

Sementara itu, Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gabungan Industri Otomotif Indonesia (Gaikindo), mengatakan penjualan mobil LCGC memang sangat positif. Saat ini, mobil LCGC bahkan telah menguasai 20% pangsa pasar otomotif di dalam negeri.

Dia pun menyebut penaikan harga mobil LCGC tidak dapat dihindari karena peningkatan biaya produksi dan inflasi yang terjadi di dalam negeri.

“Penaikan harga masing-masing ATPM memang disebabkan biaya produksi yang naik. Itu pun harus mendapat persetujuan pemerintah,” katanya.

Dia menyebut peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebenarnya dapat menekan biaya produksi, karena harga komponen yang lebih murah. Para produsen mobil pun sebenarnya mendukung dan sangat senang dengan TKDN yang tinggi untuk LCGC.

Selain dapat memperoleh komponen dengan harga yang lebih murah, sehingga membuat lebih efisien, TKDN juga dapat memberikan multiplier effect yang besar kepada masyarakat di dalam negeri.

“Kalau memang volumenya memadai, produsen sebenarnya senang dengan peningkatan TKDN, karena akan membuat biaya produksi lebih murah,” ucapnya.

BISNIS.COM

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi