Awal Tahun, Sektor Otomotif Bukukan Surplus
Reporter: Tempo.co
Editor: Abdul Malik
Sabtu, 11 Maret 2017 12:18 WIB
Teknisi mengecek kondisi mobil siap ekspor di pelabuhan mobil Tanjung Priok, Jakarta, 18 Mei 2015. Bank Indonesia mencatat ekspor kendaraan dan suku cadangnya meningkat 5,5 persen (year on year/YoY) terutama terjadi pada negara tujuan Arab Saudi, Filipina, dan Jepang. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Neraca dagang otomotif mengawali tahun ini dengan catatan positif. Dibandingkan dengan Januari 2016, pada Januari 2017 ini sektor otomotif membukukan surplus hingga 437 persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun lalu total nilai pada periode tersebut US$ 365,48 juta. Saat bersamaan nilai ekspor lebih rendah, yakni US$ 344,3 juta. Dengan demikian neraca dagang pada Januari 2016 defisit US$ 21,15 juta.

Januari tahun ini, nilai impor lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, yakni sebesar US$ 414,53 juta. Namun nilai ekspor juga melonjak menjadi US$ 507,10 juta. Alhasil neraca dagang awal tahun ini mencetak surplus US$ 92,56 juta. “Kita bisa berasumsi impor makin berkurang, konten lokal meningkat,” kata Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto, Jumat, 10 Maret 2017.

Baca : Tingkatkan Layanan, HPM Buka Dealer Baru Honda di Surabaya

Jongkie mengatakan data Gaikindo menunjukkan tren penurunan impor kendaraan bermotor secara utuh atau CBU (completely built up). Tren tersebut telah terjadi selama 3 tahun terakhir. Tren penurunan mobil CBU terjadi sejak 2014. Pada 2013 jumlah mobil CBU yang terjual di Indonesia sebanyak 154.014 unit. Tahun berikutnya turun 32,15 persen atau menjadi 104.503 unit. Selanjutnya penurunan penjualan masih terjadi pada 2015. Pada tahun itu penjualan mobil impor sebanyak 82.306 unit dan turun 8,4 persen pada 2016 menjadi 75.398 unit.

Padahal penjualan mobil pada 2015—2016 naik 4,78 persen dari 1,01 juta unit menjadi 1,06 juta unit. Jongkie mengatakan semakin sedikit penjualan mobil CBU akan semakin baik. Selain menambah lapangan pekerjaan, mobil yang sudah dirakit di dalam negeri atau CKD (completely knock down) harganya lebih kompetitif. “Hal itu tentu menguntungkan konsumen, baik pribadi maupun pelaku usaha, yang akhirnya membawa efek bagi pertumbuhan ekonomi dan pendapatan pajak,” ungkapnya.

Baca : Manufaktur Otomotif Inggris Siap Tingkatkan Kandungan Lokal

Selain itu, kata Jongkie, aturan pemerintah mewajibkan mobil LCGC (low cost green car) menggunakan 80 persen komponen lokal juga turut berkontribusi. Dalam kurun waktu 5 tahun sejak per tama kali diperkenalkan pada 2013, pabrikan mobil LCGC harus mengikuti aturan tersebut. Hal itu menurunkan jumlah komponen yang didatangkan dari luar negeri. Pabrikan akan berupaya mencari komponen lokal, dan itu menjadikan pasar komponen lokal menggeliat.

“Karena itu komponen lokal makin banyak. Impor jadi kecil, paling bahan baku yang belum bisa di produksi di dalam negeri.”

Baca : DPD Organda DIY Kunjungi Pabrik Perakitan Hino

Data BPS menunjukkan kerangka mobil memberikan sumbangsih terbesar pada nilai impor. Awal tahun ini, nilai impor kerangka kendaraan mencapai US$ 30,71 juta atau setara 7,4 persen dari seluruh nilai impor. Diikuti oleh gear boxes dengan nilai impor US$ 28,59 juta atau 6,9 persen dari total impor.

Sementara itu, di kolom ekspor gear boxes menorehkan nilai transaksi tertinggi dengan US$ 56,63 juta atau 11,2 persen dari keseluruhan ekspor. Posisi kedua diisi ekspor roda empat dengan kapasitas mesin 1.000cc—1.500cc. Ekspor mobil jenis ini sebesar US$ 51,71 juta.

BISNIS.COM

#Industri Otomotif
#Gaikindo

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi