Kronik Naik Turunnya Pasar Medium MPV
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Selasa, 24 November 2015 23:03 WIB
Mobil MPV baru NAV 1 yang diluncurkan oleh PT Toyota Astra Motor di Jakarta, (11/12). Toyota NAV1 siap bersaing dengan sejumlah kompetitornya di segmen MPV. Tempo/Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Kontribusi penjualan mobil segmen medium MPV pada Januari-Oktober 2015 terhadap total pasar hanya 5,4%, jumlah itu dinilai pelaku usaha akan bertahan hingga tahun ini berakhir dan menjadi yang terkecil setidaknya sejak 2012.

Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pada periode tersebut penjualan mobil di segmen medium MPV secara wholesales mencapai 46.223 unit dengan total pasar sebanyak 853.292 unit.

Pada tahun lalu dari total pasar mobil yang sebanyak 1,208 juta unit, segmen medium MPV terlego 81.934 unit atau setara 6,8%.

Sedangkan pada 2013 total penjualan mobil medium MPV menapak jumlah 123.498 unit. Jumlah itu berkontribusi sekitar 10% terhadap total pasar yang sebanyak 1,229 juta unit.

Sepanjang 2012 kontribusi segmen medium MPV tercatat mencapai 11%.

Di tahun tersebut total penjualannya sebanyak 132.017 unit dari total pasar yang mencapai 1,116 juta unit.

Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy,  saat ditemui Senin (23 November 2015) menyebutkan bahwa penurunan kontribusi tersebut terjadi karena beberapa faktor.

Pertama, segmen medium MPV hanya melibatkan pemain yang sedikit.

Gaikindo mencatat, setidaknya hanya ada lima merek yang menyumbangkan penjualan di segmen tersebut.

Kelimanya yaitu Toyota Kijang Innova, Nissan Grand Livina, Honda Freed, Isuzu Panther dan Proton Ixora.

Dari volume penjualan, Kijang Innova mendominasi segmen tersebut.

Kedua, segmen tersebut kalah bersaing dengan segmen lain dengan harga yang lebih murah namun memberikan penawaran kelebihan yang sama dengan medium MPV dari segi fitur maupun kapasitas penumpang. Dia mencontohkan segmen low MPV dan low SUV.

“Sebenarnya kami melihat sekarang konsumen lebih sensitif harga. Kami pikir pasar medium MPV beberapa tahun terakhir turun mungkin 10 tahun lalu jadi pasar utama tapi sekarang orang beralih ke low MPV mungkin nanti ke low SUV dan kalau mau beli dengan harga tinggi sekalian SUV,” kata Jonfis.

Sehingga, lanjut dia, meski pasar distimulus dengan produk baru hal itu tidak akan terlalu berpengaruh banyak terhadap kontribusi segmen medium MPV terhadap total pasar mobil di tanah Air ke depan.

Jonfis menambahkan, oleh karena itu pihaknya saat ini tidak terlalu fokus di segmen medium MPV.

Meski demikian, dia menyebut tak mustahil pihaknya meluncurkan produk anyar di segmen itu ke depan karena pasarnya tetap ada.

Sementara itu, PT Toyota Astra Motor (TAM) pada 23 November resmi merilis All New Kijang Innova untuk mempertahankan dominasi di segmen medium MPV.

Direktur Pemasaran PT TAM Rahmat Samulo mengamini jika kontribusi segmen medium MPV terhadap total pasar tahun ini hanya akan berada di kisaran 5%.

Akan tetapi menurutnya ke depan dengan hadirnya Kijang Innova baru tersebut pasar akan kembali terstimulus sehingga porsinya dapat naik menjadi sekitar 6% terhadap total pasar tahun depan.

Harapan tersebut cukup beralasan mengingat Kijang Innova begitu dominan di pasar medium MPV.

Pada periode Januari-Oktober penjualannya mencapai 34.755 unit atau setara 75,2% dari total penjualan medium MPV.

Pada 2014 penjualannya mencapai 56.157 unit atau setara 68,5%.

“Mudah-mudahan dalam waktu jangka menengah ke depan kondisi ekonomi masyarakat akan membaik seiring pertumbuhan ekonomi yang membaik. Saya harap medium MPV bisa bergerak juga,” ujarnya dalam kesempatan yang berbeda.

Presiden Direktur PT Nissan Motor Indonesia (NMI) Steve Ardianto mengatakan, pasar medium MPV bisa bergerak jika pabrikan yang bermain di segmen itu menstimulus dengan produk anyar. Grand Livina bahkan masih menjadi andalan pabrikan asal Jepang tersebut untuk mencetak volume penjualan.

Pada januari-Oktober 2015 penjualan Grand Livina hanya 7.005 unit sedangkan tahun lalu sebanyak 15.121 unit. Jumlah itu tergolong sedikit jika dibandingkan pada 2012 dan 2013 yang masing-masing mencapai 34.129 unit dan 35.422 unit.

Penurunan tersebut dinilainya terjadi karena Grand Livina belum mengalami pembaruan.

Hal itu pun diakuinya sangat berpengaruh terhadap penjualan Nissan pada januari-Oktober tahun ini yang baru mencapai 22.022 unit, menurun sekitar 27,4% dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 30.342 unit.

“Masalah penjualan kami ada di Grand Livina. Oleh karena itu tahun depan kami akan melakukan pembaruan,” ucapnya.

BISNIS

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi