Doa Santri Yatim dan Duafa untuk Rio Haryanto
Reporter: Tempo.co
Editor: Martha Warta Silaban
Kamis, 18 Februari 2016 11:52 WIB
Rio Haryanto berkunjung ke kantor Tempo di Jakarta, 12 Februari 2016. Membutuhkan dana yang besar, Rio meminta dukungan pemerintah Indonesia. Dengan nama pemerintah melalui Menpora, Imam Nahrawi bekerjasama dengan PT Kiky Sport, menyatakan siap membantu Rio untuk membayarkan sebagian dana tersebut ke Manor Grand Prix Racing Ltd. TEMPO/Fardi Bestari

TEMPO.CO, Boyolali - Ratusan kilometer dari Jakarta, tepatnya di Dukuh Sorowaden, Desa Banyudono, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, doa para santri Pondok Pesantren Al-Hikam terus mengalir untuk Rio Haryanto. “Kami berdoa sendiri-sendiri. Biasanya sehabis salat,” kata Umam, 15 tahun, santri asal Kabupaten Kebumen, pada Kamis, 18 Februari 2016.

Umam adalah satu dari 60 santri yang mondok di yayasan ponpes milik keluarga Rio, calon pembalap Formula 1 asal Kota Surakarta. Sebagian besar santri itu yatim dan duafa. Selama mendalami ilmu agama Islam di pondok berjarak sekitar 300 meter di utara Jalan Raya Solo-Boyolali Kilomater19 itu, mereka tidak dipungut biaya.

Selain mempunyai pondok pesantren, Yayasan Ponpes Terpadu Al-Hikam memiliki SD Islam dengan 266 siswa, TK Islam (126 siswa), dan PAUD (104 siswa). PAUD Yayasan Ponpes Terpadu Al Hikam berada di Desa Ngaru Aru, Kecamatan Banyudono.

Pelaksana Harian Yayasan Ponpes Terpadu Al-Hikam Moh. Kholid Ismail menuturkan pondok di atas lahan sekitar satu hektare itu didirikan pada 2003 oleh lima orang. Mereka adalah H Achmad Sutantyo dan Hj Mien Handayani (kakek dan nenek Rio dari pihak ayah yang mewakafkan tanahnya untuk pondok), Indah Pennywati (ibu Rio), KH Ali Muchson (pengasuh pondok diniyah), dan H Idrus Assegaf (pembina pondok pesantren).

“Tiap libur membalap saat musim panas, Rio mudik ke Solo dan meluangkan waktu mampir ke sini,” ucap Kholid. Rio terakhir mampir ke Ponpes Al-Hikam pada 8-9 Desember 2015. Masih terekam jelas di benak Umam ihwal pesan-pesan Rio selama menyambangi Ponpes Al-Hikam. “Mas Rio mengajarkan kami agar tidak mudah menyerah dalam kondisi apa pun. Itu kunci suksesnya,” ujar Umam.

Baca: RESMI, Rio Haryanto Perkuat Tim Manor di Formula 1

Menurut santri lain, Faizal, 16 tahun, Rio adalah sosok yang humoris. “Orangnya lucu. Meski sudah lama tinggal di luar negeri, dia kalau ngomong terkadang masih campur dengan bahasa Jawa,” kata santri asal Boyolali itu. Saat berkunjung ke Ponpes Al-Hikam, ucap Faizal, Rio menceritakan ihwal adanya peluang masuk Formula 1. Namun Rio harus membayar 15 juta euro atau sekitar Rp 233 miliar.

“Mas Rio juga minta didoakan, agar mudah dalam mencari dukungan dana,” ucap Faizal. Hampir 2,5 bulan setelah Rio bertandang ke Ponpes Al-Hikam, pada Rabu lalu, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memastikan Rio sudah bergabung dengan tim Formula 1, Manor, musim ini. “Tinggal dukungan dari kalian semua untuk Rio,” tutur Imam kepada Koran Tempo.

Meski turut mendukung dengan doa, bukan berarti Umam, Faizal, dan santri lain di Ponpes Al-Hikam bakal bebas menyaksikan Rio beradu kecepatan di sirkuit-sirkuit internasional yang disiarkan langsung di televisi. “Selama mondok, para santri dibatasi menonton televisi, agar tidak mengganggu konsentrasi belajar mereka,” ujar Kholid.

Jika Rio memang sudah dipastikan akan berlaga di ajang balap jet darat Formula 1, kata Kholid, dia berniat akan mengumumkan jadwal pertandingannya seusai salat Jumat. “Akan kami beri tahukan kepada para santri, besok tanggal sekian jam sekian, Rio berlaga di sirkuit negara ini-itu, agar para santri bisa turut mendoakan Rio,” kata Kholid.

DINDA LEO LISTY

#F1
#Rio Haryanto
#Kabupaten Boyolali

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi