Pebisnis: Produk Baru Otomotif Bisa Jadi Tambatan
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Kamis, 28 Juli 2016 09:06 WIB
Produsen otomotif yang sudah tidak asing lagi di telinga bagi pecinta otomotif, Abarth memperkenalkan mobil terbarunya yakni Abarth 124 Spider. Abarth merupakan bagian dari Fiat Group. topgear.com

TEMPO.CO, Jakarta - Pelaku industri otomotif menganggap  kehadiran produk baru kendaraan roda empat dapat dijadikan tambatan pertumbuhan, seiring dengan terjadinya stagnasi pasar. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil selama se mester pertama tahun ini telah men capai 531.929 unit.

Volume itu tumbuh tipis 1% dibandingkan dengan tahun lalu yang sekitar 525.491 unit. Meski mengantongi pertumbuhan, pasar secara umum dianggap masih stagnan. Adapun, satu-satunya pemicu pertumbuhan bagi agen pemegang merek (APM) adalah kehadiran produk baru.

Seperti dikatakan Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Henry Tanoto, kehadiran produk baru setidaknya bakal menyelamatkan penjualan prinsipal asal Jepang itu pada tahun ini. Dia menyimpulkan, produk baru memiliki magnet kuat bagi konsumen.

“Apalagi, produk baru itu menghuni segmen laris, seperti low cost green car dan mobil penumpang ser baguna,” katanya kepada Bisnis, Rabu (27 Juli 2016).

Vice Managing Director Suzuki Indomobil Sales Davy J. Tuilan mengamini hal tersebut. Menurutnya, dengan kelesuan pasar, justru para pemain kian gencar melempar produk agar tak kehilangan pasar. “Produk baru dihadirkan agar kinerja penjualan tak memburuk, di sisi lain harga juga semakin bersaing,” katanya.

Dia mengatakan peluncuran produk sesungguhnya akan berimbas jangka menengah hingga jauh ke depan bagi APM. “Jadi persaingan akan terus menerus, pasar pun perlahan terdorong,” kata Davy.

Beberapa produk itupun berpeluang mengantar volume pasar ke angka yang diperkirakan lebih positif dibandingkan dengan tahun lalu. Apalagi kebanyakan produk, memang masuk dalam segmen gemuk seperti LCGC, MPV, juga SUV. 

Dari Toyota, telah diluncurkan Sienta dan akan menyusul Calya di segmen LCGC bersamaan de ngan Daihatsu Sigra. Bahkan Suzuki, tengah bersiap meramaikan GIIAS 2016 dengan sedikitnya enam produk yang merentang dari segmen MPV hingga SUV.

Sampai saat ini, penjualan domestik masih ditopang segmen LCGC, MPV, dan SUV. Berbarengan dengan itu, ki nerja ketiga segmen pada semester pertama ta - hun ini cukup moncer.

Segmen LCGC se lama Januari hingga Juni tahun ini mengoleksi volume penjualan 89.952 unit, setara 16,9% dari total pasar. Volume itu naik 10% dari paruh pertama tahun lalu sekitar 82.013 unit.

Sementara LMPV mencapai 138.647 unit selama semester pertama tahun ini, naik 9% dari tahun lalu sekitar 127.121 unit. LMPV menggenggam 26,06% pangsa pasar domestik.

Terakhir, LSUV mencatatkan pertumbuhan signifikan, 77%, dari 39.489 unit pada semester pertama tahun lalu, menjadi 69.778 unit. Penguasaan pasar segmen ini mencapai 7,4%.

General Manager Strategi Pemasaran PT Nissan Motor Indonesia (NMI) Budi Nur Mukmin mengatakan pergerakan pasar memang akan dipengaruhi produk-produk baru tersebut. Terutama, katanya, dinamika yang terjadi pada segmen LCGC.

Dia mengamini segmen mobil murah ini akan terus mengantongi hasil positif. Pasalnya, ungkap Budi, selama ini pasar Indonesia tergolong belum mencapai tahap motorisasi.

“Artinya, mayoritas masih menggunakan sepeda motor, konsumen itulah yang nantinya mengejar mobil LCGC,” katanya. 

Bahkan, Budi memperkirakan pangsa pasar LCGC akan semakin mendekati pasar LMPV. Pada tahun ini, dia optimistis segmen tersebut bisa mencaplok sekitar 20% pangsa pasar.

Faktor lain yang membuat pasar ke depan bisa positif, lanjut Budi, adalah rencana kebijakan batas uang muka kredit kendaraan bermotor.

Akan tetapi, katanya, pengaruh menolkan uang muka pun tak bisa langsung dinikmati pelaku industri kendaraan bermotor.

“Karena perusahaan pembiayaan pun akan menerapkan pengucuran kredit yang lebih selektif nantinya,”simpul Budi.

BISNIS

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi