Produksi MPV Bikin Ekspor Mobil Indonesia Jeblok
Reporter: Tempo.co
Editor: Sugiharto
Selasa, 29 Agustus 2017 20:00 WIB
Mitsubishi Your Next Generation MPV. mitsubishi-motors.co.id

TEMPO.CO, Jakarta - Mobil multipurpose verhicle (MPV) yang banyak diproduksi karena disukai masyarakat Indonesia ternyata membuat ekspor mobil stagnan. Selera lokal ternyata tak disukai pasar dunia. 

Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengatakan, total produksi mobil di Indonesia per tahun 1,2 juta unit sedangkan 1,1 juta di antaranya dijual di dalam negeri dan hanya sekitar 100 ribu mobil yang diekspor. Sedangkan di Thailand memproduksi 2 juta unit per tahun dan 1,2 juta di antaranya untuk pasar ekspor.

Menurut dia, perbedaan itu terjadi karena variasi produk Thailand jauh lebih lengkap daripada Indonesia. "Ibarat masuk warung makan, variasi pilihan makanan di sana itu lebih lengkap daripada di Indonesia," kata Jongkie di Jakarta hari ini, Selasa, 29 Agustus 2017. "Konsumen pasti akan memilih yang lebih lengkap dibanding yang kurang."

Lalu, mengapa mobil buatan Indonesia miskin variasi? Menurut Jongkie, penyebabnya jenis mobil yang diminati orang Indonesia tidak begitu laku di pasar dunia. Dia menuturkan, 56 persen kendaraan penumpang penggerak roda depan (4x2) dengan kapasitas mesin di bawah 1.500 cc produksi Indonesia adalah MPV. "Di pasar dunia, jenis mobil ini (MPV) tidak (disukai)," ujar Jongkie.

Pasar dunia, Jongkie menjelaskan, menyukai mobil jenis sedan. Namun, tingginya Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPN BM) sebesar 30 persen membuat tidak ada investor yang mau membangun industri mobil sedan di Indonesia. "Mobil sedan hanya berkontribusi 3 persen dari produksi mobil Indonesia," ucapnya.

Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) Christianto Wibisono pun berpendapat bahwa industri otomotif Indonesia sedang stagnan. Menurut dia, itu akibat regulasi dari pemerintah antara lain penetapan pajak yang terlalu tinggi.

Lebih jauh Jongkie mengatakan bahwa Gaikindo sedang melakukan harmonisasi tarif pajak agar produksi mobil sedan bisa meningkat, bukan hanya MPV, sehingga prosentase ekspor mobil bisa naik. Toh, jika tarif pajak turun bukan berarti pendapatan negara langsung turun.

Jongkie menuturkan, per 1.000 orang di Indonesia hanya 87 di antaranya yang memiliki mobil. Berbeda dengan di Malaysia yakni 439 pemilik mobil dan Thailand 228 pemilik mobil. Kalau saja naik 1 menjadi 88 pemilik mobil maka dari total penduduk 250 juta, akan ada tambahan unit 250 ribu. "Jadi potensi Indonesia sangat baik," kata Jongkie.

M. JULNIS FIRMANSYAH

#Mobil
#Gaikindo

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi